TATA CARA PEMULASARAAN JENAZAH ODHA

  • 16 Juli 2018
  • Oleh: kesimanpetilan
  • Dibaca: 62 Pengunjung
TATA CARA PEMULASARAAN JENAZAH ODHA

Belum semua masyarakat memahami penularan HIV AIDS dari satu orang ke orang lain secara benar. Apakah bisa tertular bila memegang, menyentuh atau berdekatan dengan jenazah ODHA (Orang dengan HIV AIDS)? Kekhawatiran masih adanya virus HIV yang melekat pada jenazah, yang pada dasarnya sama, pada semua penyakit infeksi menular lainnya, ternyata bisa diantisipasi. Salah satunya dengan memahami mengenai tata cara perawatan jenazah yang meninggal karena penyakit infeksi. Tindakan dalam mengantisipasi terjadinya penularan penyakit infeksi disebut kewaspadaan standar. Termasuk di dalamnya adalah wajib tersedianya alat pelindung dan penatalaksanaan peralatan serta lingkungan.

Tata carapenyelenggaraanjenazah ODHAyang dilakukan oleh petugas kesehatan ataupun kelompok masyarakat terlatih harus memperhatikan faktor-faktor penularan penyakit yang mungkin ditularkan oleh jenazah, yaitu dengan mengikuti  ketentuan umum seperti berikut:

1.Selalu menerapkan kewaspadaan standar yakni memperlakukan semua jenis cairan dan jaringan tubuh jenazah sebagai bahan yang infeksius dengan cara menghindari kontak langsung.

2. Pastikan jenazah sudah didiamkan selama lebih dari dua jam sebelum dilakukan perawatan jenazah.


3. Tidak mengabaikan etika, budaya, dan agama yang dianut jenazah.

4. Semua lubang-lubang tubuh ditutup dengan kasa absorben dan diplester kedap air.


5. Badan jenazah harus bersih dan kering.


6. Sebaiknya jenazah yang sudah dibungkus/dikafani/ dipakaikan baju tidak dibuka lagi.


7. Jenazah yang dibalsem atau disuntik untuk pengawetan atau autopsi dilakukan oleh petugas khusus yang terlatih.


8. Autopsi hanya dapat dilakukan setelah mendapat persetujuan dari pihak berwenang.

Kewaspadaan standar terkait penyelenggaraan jenazah meliputi:

1.Kebersihan tangan/cuci tangan.

2.Pemakaian alat pelindung diri (APD):

    a.Sarung tangan.

    b.Masker.

    c.Pelindung mata (goggle).

    d.Penutup kepala.

    e.Gaun pelindung.

    f.Sepatu pelindung.

3. Etika batuk untuk melindungi orang sekitar.

4. Pengelolaan linen.

5. Praktik penyuntikan yang aman.

6. Pengelolaan lingkungan.

Cara dekontaminasi bagian tubuh.

Beberapa bagian tubuh sangat mudah terkontaminasi oleh cairan atau kotoran yang berasal dari jenazah, terutama jika cara kerja tidak berhati-hati dan tidak memakai alat pelindung diri yang sesuai.

1. Bila yang terkontaminasi tangan, kaki atau kulit lain yang utuhmaka cukup dicuci bersih dengan memakai sabun.Tetapi bila ada kulit yang tidak utuh seperti luka lecet maka prosedur mencuci ini harus menggunakan antiseptik.ï‚· Bila yang terkontaminasi mata maka segeralahmencuci mata dengan air bersih.

2. Bila yang terkontaminasi hidung maka segera keluarkan dengan melakukan bersin dan bilas dengan air bersih.

3. Bila yang terkontaminasi bagian tubuh yang luas maka segeralah mandi bersih menggunakan sabun dan cuci rambut menggunakan shampo.

Cara dekontaminasi peralatan bekas pakai

Dekontaminasiperalatan bekas pakai bertujuan untuk mencegah penyebaran infeksi melalui alat seperti:

1. Bak/mejapemandian.

2. Perabot rumahtangga (ember, gayung, dll). Lantai.

3. Linen. Peralatan tersebut di atas termasuk perabot rumahtangga yang sangat mudah terkontaminasi oleh cairan jenazah terutama jenazah dengan riwayat kecelakaan.

Bila tumpahan cairan atau darah banyak maka serap terlebih dahulu dengan kertas koran atau tisu kemudian dikelola lebih lanjut sebagai bahan infeksiusdi tempat tertentu.Bekas tumpahan diberi cairan deterjen kemudian didekontaminasi dengan cairan disinfektankemudian serap lagi dengan kertas atau tisu.Bilas dengan air bersih kemudian lap dengan kertas atau tisu.

Disinfektan yang sering digunakan:


Klorin atau hipoklorit adalah disinfektan yang bekerja cepat untuk membunuh kuman dengan harga yang cukup murah.Sediaannya ada yang berbentuk cair (seperti natrium hipoklorit) dan ada yang padat (seperti kalsium hipoklorit). Natrium hipoklorit banyak dipakaiuntuk pemutih pakaian dalam konsentrasi 5,8%. Untuk keperluan pembersihan lantai atau perabot rumah tangga cukup dengan konsentrasi 0,5% yang dibuat dengan mencampur larutan klorin dengan air dalam perbandingan 1:9.

Fenol atau karbol adalah cairan disinfektan yang sering dipakai dan banyak dipasarkan dengan merek seperti Lysol dan Densol.Larutan ini kurang aman untuk kulit dan mukosa (selaput lendir).

Pengelolaan sampah infeksius

Sampah yang bersifat infeksius dari jenazah biasanya berupa perban, kasa, dan plaster yang berasal dari perawatan rumah sakit.Sampah tersebut dimasukkan ke dalam satu wadah agar tidak berceceran.Wadah dapat berupa kardus atau kantong plastik untuk kemudian dibakar pada tempat yang aman.Cara membakarnya harussecara sempurna hingga semua menjadi abu. Apabila di lokasi setempat terdapat fasilitas pengelolaan limbah infeksius (insenerator) maka dapat dikirimkan ke tempat tersebut melalui dinas kesehatan atau puskesmas setempat.

Pengelolaan limbah cair

Limbah cair dari jenazah adalah cairan tubuh jenazah dan bekas air mandi jenazah. Limbah cair ini juga harus tersalur ketempat pembuangan yang aman dan jangan sampai mencemari sumber air minum seperti sumur serta halaman yang sering menjadi tempat bermain anak-anak. Agar limbah cair ini aman tidak mencemari lingkungan sekitar maka limbah diberi larutan klorin kemudian dialirkan ke saluran air/selokan/septik tank. Apabila cairan jenazah pengidap infeksi menular seperti kolera, disentri dantifoid, maka tempat pemandian jenazah harus diberi disinfektan seperti kaporit. Dekontaminasi bekas lantai pemandian jenazah ini dapat juga dengan menaburkan kapur gohor (gamping)

Penyelenggaraanjenazah harus dilakukan dengan hati-hati, tertib, dan tidak ceroboh.Air bekas memandikan jenazah jangan sampai terpercik dan berserakan di lantai atau tempatpemandian.Setelah selesai menyelenggarakan penyelenggaraanjenazah segera mandi bersih menggunakan sabun dan apabila ada luka lecet pada kulit, maka pergunakan antiseptik seperti alkohol 70%, khlorhexidin atau povidone iodine.


  • 16 Juli 2018
  • Oleh: kesimanpetilan
  • Dibaca: 62 Pengunjung

Artikel Terkait Lainnya

I Wayan Mariana

Apakah Informasi yang tersaji pada Website Desa Kesiman Petilan ?